Jakarta, 4 Agustus 2026 — Indonesia bersiap menjadi tuan rumah babak final Country-to-Country Capture The Flag atau C2C-CTF 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Bali pada 10–14 Agustus. Kompetisi keamanan siber internasional tersebut mempertemukan mahasiswa dan peneliti muda dari berbagai negara untuk menyelesaikan tantangan teknis dalam lingkungan yang dikendalikan.
Kementerian Komunikasi dan Digital menyatakan ajang tahun ini diikuti 81 peserta dari 13 negara. Peserta berasal dari Indonesia, Jepang, Australia, Hong Kong, Singapura, Bangladesh, Kamboja, Inggris, Kazakhstan, Laos, Filipina, Spanyol, dan Amerika Serikat. Sejumlah perguruan tinggi yang terlibat antara lain University of Cambridge, Keio University, Royal Holloway University of London, University of Melbourne, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Indonesia.
Final Dilaksanakan Secara Tim di Bali
Situs resmi C2C-CTF 2026 menjelaskan bahwa proses seleksi awal dilaksanakan secara daring dan individual pada Februari. Babak final kemudian digelar secara langsung dengan format tim. Penyelenggara membentuk tim berisi lima peserta untuk menjaga keseimbangan kemampuan, latar belakang, dan pengalaman.
Peserta diminta membawa laptop dan perangkat pendukung masing-masing. Penyelenggara menyediakan koneksi internet dan sumber listrik selama kompetisi. Akomodasi serta konsumsi peserta final juga disiapkan, sedangkan kebutuhan perjalanan menuju lokasi menjadi tanggung jawab peserta kecuali terdapat ketentuan lain dari penyelenggara.
Dalam kompetisi Capture The Flag, peserta biasanya diminta menemukan celah, menganalisis kode, memecahkan persoalan kriptografi, memeriksa bukti digital, atau mempertahankan sistem simulasi. Seluruh tantangan dilaksanakan pada infrastruktur yang memang disediakan untuk kompetisi. Kegiatan ini berbeda dari upaya mengakses sistem nyata tanpa izin.
Indonesia Menghadapi Kebutuhan Talenta Siber
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menilai penyelenggaraan kompetisi internasional menjadi kesempatan untuk meningkatkan kapasitas Indonesia menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks. Kemkomdigi menyebut lebih dari 220 juta pengguna internet Indonesia terhubung dalam ekosistem digital yang membutuhkan perlindungan melalui teknologi, tata kelola, dan sumber daya manusia.
Menurut Meutya, tantangan keamanan siber tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak atau satu negara. Kerja sama pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas, dan mitra internasional diperlukan karena serangan digital dapat bergerak lintas wilayah serta memanfaatkan kelemahan teknologi maupun faktor manusia.
Fakultas Teknik Universitas Indonesia menjadi tuan rumah melalui Departemen Teknik Elektro dengan Universitas Udayana sebagai mitra pelaksana di Bali. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengembangan Cyber Security Center of Excellence yang didukung kerja sama Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency.
Program pengembangan pusat keunggulan tersebut telah berjalan selama beberapa tahun dan diarahkan untuk menghubungkan pendidikan, penelitian, serta kebutuhan keamanan siber nasional. Kompetisi menjadi salah satu cara untuk mengukur kemampuan peserta melalui persoalan yang dapat diuji, bukan hanya melalui sertifikat atau pengetahuan teori. Hasilnya dapat membantu kampus mengenali bidang yang masih perlu diperkuat dalam kurikulum dan latihan laboratorium.
Kompetisi Menjadi Ruang Latihan yang Terukur
Kompetisi siber memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan teknis tanpa menyentuh sistem masyarakat atau perusahaan. Peserta harus bekerja cepat, membagi tugas, mendokumentasikan temuan, dan menjelaskan cara penyelesaian. Keterampilan tersebut relevan untuk pekerjaan seperti analis keamanan, penguji penetrasi resmi, respons insiden, forensik digital, dan pengelolaan pusat operasi keamanan.
Format tim internasional juga mendorong peserta berkomunikasi dengan rekan yang memiliki kebiasaan kerja dan tingkat pengalaman berbeda. Kolaborasi semacam ini penting karena penanganan insiden siber di dunia nyata sering melibatkan banyak organisasi, penyedia teknologi, dan otoritas dari beberapa negara.
Bagi perguruan tinggi Indonesia, penyelenggaraan final dapat menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring penelitian, memperbarui materi pembelajaran, dan membuka kerja sama dengan industri. Namun, kompetisi tidak dapat menggantikan pembangunan sistem keamanan yang berkelanjutan. Organisasi tetap harus memperbarui perangkat lunak, mengatur hak akses, melindungi data, menyiapkan cadangan, dan melatih pegawai menghadapi penipuan digital.
Masyarakat Tetap Perlu Menerapkan Keamanan Dasar
Peningkatan talenta profesional perlu berjalan bersama kebiasaan aman masyarakat. Pengguna internet sebaiknya memakai kata sandi berbeda untuk setiap layanan, mengaktifkan autentikasi dua faktor, memperbarui perangkat, dan tidak memberikan kode verifikasi kepada siapa pun. Tautan undangan, hadiah, dan permintaan data pribadi juga perlu diperiksa sebelum dibuka.
Informasi mengenai jadwal dan hasil C2C-CTF 2026 sebaiknya dipantau melalui situs resmi kompetisi, Universitas Indonesia, dan Kemkomdigi. Pendaftaran babak kualifikasi telah berlangsung pada Februari sehingga masyarakat perlu mewaspadai akun tidak resmi yang menawarkan jalur pendaftaran atau meminta pembayaran atas nama panitia.