Saturnus rupanya belum selesai memberi kejutan. Planet bercincin itu selama puluhan tahun dikenal memiliki heksagon raksasa di kutub utara, sebuah pola enam sisi yang menjadi salah satu ciri atmosfer paling aneh di Tata Surya. Sekarang perhatian astronom justru bergeser ke kutub selatan.
Pengamatan terbaru Teleskop Luar Angkasa Hubble memperlihatkan pola atmosfer dengan sekitar 10 sisi yang mengelilingi wilayah kutub selatan Saturnus. NASA menyebut struktur itu sebagai decagon, atau dekagon. Temuan tersebut diumumkan pada 2 September 2026.
Yang membuatnya menarik bukan semata bentuk geometrisnya. Para astronom ternyata dapat menelusuri jejak pola tersebut dalam data beberapa tahun terakhir. Itu membuka kesempatan yang cukup jarang: melihat sebuah struktur atmosfer Saturnus kemungkinan sedang tumbuh dan berubah ketika pengamatan berlangsung.
Bukan sekadar heksagon kedua
Pola geometris di atmosfer Saturnus bukan hal yang sama sekali baru. Heksagon di kutub utara sudah terlihat sejak pengamatan Voyager pada awal 1980-an, kemudian dipelajari lebih dekat oleh wahana Cassini. Struktur itu berada di dalam aliran jet dan mampu bertahan dalam waktu yang sangat lama.
Karena atmosfer Saturnus memiliki sejumlah kemiripan antara belahan utara dan selatan, para ilmuwan sejak lama bertanya apakah kutub selatan mempunyai pasangan untuk heksagon tersebut.
Jawabannya selama bertahun-tahun tampak seperti tidak.
Agustín Sánchez-Lavega dari University of the Basque Country dan rekan-rekannya telah mencari pola seperti itu dalam pengamatan lama. Bahkan data Cassini, yang mengamati Saturnus selama lebih dari satu dekade, tidak menunjukkan sebuah bentuk besar dan stabil yang setara dengan heksagon utara.
Struktur yang kini terlihat juga tidak identik. Jika kutub utara mempunyai enam sisi, pola baru di selatan memperlihatkan sekitar 10 sisi.
Jejaknya terlihat sejak 2023
Temuan ini bukan hasil dari satu foto yang kebetulan menghasilkan bentuk menyerupai poligon. Tim peneliti membandingkan beberapa tahun pengamatan dan menemukan bahwa tanda-tandanya setidaknya sudah terlihat sejak 2023.
Pada 2024, pengamatan dari Bumi juga mulai memperlihatkan pita atmosfer dengan karakter bergelombang. Citra Hubble berikutnya kemudian membuat pola tersebut semakin mudah dikenali.
Hubble mempunyai keuntungan penting untuk pekerjaan seperti ini. Karena berada di atas atmosfer Bumi, teleskop tersebut tidak mengalami gangguan turbulensi udara seperti teleskop berbasis darat. Perubahan yang relatif halus pada pita awan Saturnus karena itu dapat diikuti dengan lebih konsisten.
Salah satu rangkaian citra yang dipakai dalam penelitian diambil pada 29 Agustus 2025 menggunakan instrumen Wide Field Camera 3 atau WFC3 milik Hubble.
Pola itu tidak hanya berada di satu lapisan awan
Decagon ditemukan di sekitar 63 derajat lintang selatan dan berhubungan dengan aliran jet atmosfer Saturnus. Pengamatan pada panjang gelombang yang berbeda memperlihatkan posisi pola yang sedikit bergeser.
Perbedaan tersebut penting. Panjang gelombang yang berbeda dapat menyingkap bagian atmosfer pada ketinggian yang berbeda pula. Dengan membandingkannya, tim menemukan indikasi bahwa gelombang 10 sisi itu menjangkau beberapa lapisan atmosfer, bukan sekadar garis awan tipis yang kebetulan terlihat bersudut jika diamati dari atas.
Amy Simon dari NASA Goddard Space Flight Center, yang memimpin program Outer Planet Atmospheres Legacy atau OPAL, mengatakan pengamatan seperti ini belum pernah terlihat sebelumnya di belahan selatan Saturnus.
Program OPAL memang dirancang untuk mengamati planet-planet luar secara berkala. Dengan pendekatan itu, Hubble tidak hanya menghasilkan gambar menarik, tetapi juga menyediakan rekaman perubahan atmosfer dari tahun ke tahun.
Pertanyaan berikutnya justru lebih menarik
Heksagon utara sudah terbukti mampu bertahan selama puluhan tahun. Nasib decagon selatan belum diketahui.
Bisa saja struktur itu kemudian menetap. Bisa juga jumlah sisinya berubah, gelombangnya melemah, atau akhirnya menghilang. Karena pola tersebut tampak berkembang selama beberapa tahun terakhir, astronom sekarang mempunyai alasan kuat untuk terus mengawasinya.
Musim Saturnus ikut berperan dalam kesempatan pengamatan ini. Planet tersebut memerlukan sekitar 29 tahun Bumi untuk sekali mengelilingi Matahari. Akibat kemiringan sumbunya, wilayah kutub yang mendapatkan pencahayaan dan sudut pandang terbaik juga berubah perlahan.
Dalam beberapa tahun mendatang, posisi kutub selatan akan memberi para astronom peluang tambahan untuk melihat apakah pola tersebut benar-benar berkembang menjadi struktur jangka panjang.
Saturnus masih berubah di depan mata kita
Kita sering membayangkan planet raksasa seperti Saturnus sebagai dunia yang nyaris tidak berubah dalam rentang kehidupan manusia. Pengamatan Hubble justru menunjukkan mengapa pemantauan jangka panjang masih penting.
Sebuah fenomena yang tidak terlihat jelas pada pengamatan beberapa dekade lalu sekarang mulai muncul dalam data modern. Perubahan seperti ini membantu ilmuwan memahami bagaimana aliran jet, gelombang atmosfer, musim, dan struktur awan saling berhubungan pada planet yang kondisi fisiknya sangat berbeda dari Bumi.
Untuk saat ini, astronom belum mempunyai jawaban akhir mengenai berapa lama decagon akan bertahan. Namun justru ketidakpastian itu yang membuat pengamatan berikutnya menarik. Jika pola tersebut terus menguat, para ilmuwan akan mempunyai kesempatan langka untuk mengikuti evolusi struktur atmosfer raksasa hampir sejak awal kemunculannya.
Sumber utama: NASA Science — NASA’s Hubble Tracks New Decagon Encircling Saturn’s South Pole, 2 September 2026.
Sumber gambar: NASA Science — Decagon on Saturn’s South Pole (Color).