NASA menyiapkan rangkaian penelitian untuk mengamati gerhana Matahari total yang akan terjadi pada 12 Agustus 2026. Badan antariksa Amerika Serikat itu akan menggunakan pesawat penelitian berketinggian tinggi dan balon ilmiah untuk mempelajari korona Matahari serta perubahan atmosfer Bumi ketika cahaya Matahari berkurang secara tiba-tiba.
Jalur totalitas akan melintasi Greenland, Islandia, Rusia bagian utara, Samudra Atlantik, Spanyol utara, dan sebagian kecil Portugal. Di wilayah yang berada tepat di jalur tersebut, Bulan akan menutupi seluruh piringan Matahari selama beberapa menit. Kawasan lain di belahan Bumi utara hanya akan mengalami gerhana sebagian.
Indonesia tidak termasuk wilayah yang dapat menyaksikan gerhana ini secara langsung. Masyarakat Indonesia tetap dapat mengikuti siaran resmi NASA dan melihat pengamatan dari lokasi-lokasi yang berada di dalam jalur totalitas.
Korona Terlihat Saat Totalitas
Gerhana Matahari total memberi kesempatan langka untuk mengamati korona, yaitu atmosfer luar Matahari yang biasanya tertutup oleh cahaya terang dari permukaan Matahari. Saat Bulan menutupi piringan Matahari, struktur korona menjadi lebih mudah terlihat dan direkam dengan instrumen ilmiah.
Korona terdiri atas plasma bersuhu sangat tinggi dan dipengaruhi medan magnet yang kompleks. Peneliti mempelajari wilayah ini untuk memahami aliran energi, angin Matahari, dan proses yang dapat memicu gangguan cuaca antariksa. Aktivitas tersebut dapat memengaruhi satelit, komunikasi radio, navigasi, dan jaringan listrik di Bumi.
Pesawat WB-57 Membawa Empat Kamera
NASA akan menggunakan pesawat WB-57 yang mampu terbang pada ketinggian sekitar 50.000 kaki. Pesawat itu membawa empat kamera untuk merekam korona dalam beberapa panjang gelombang. Pengamatan dari udara juga mengurangi sebagian gangguan awan, uap air, dan kondisi atmosfer yang dihadapi teleskop di permukaan.
Dengan bergerak mengikuti lintasan bayangan Bulan, pesawat dapat memperpanjang waktu pengamatan dibandingkan pengamatan dari satu lokasi di darat. Kamera berkecepatan tinggi akan mengumpulkan banyak citra selama totalitas. Data tersebut kemudian dianalisis untuk melihat bentuk, suhu, dan pergerakan struktur halus di sekitar Matahari.
Hasil pengamatan pesawat akan dibandingkan dengan data dari teleskop antariksa dan instrumen lain. Perbandingan itu penting karena setiap alat menangkap bagian korona dengan karakteristik berbeda. Gabungan beberapa sumber data memberi gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi Matahari pada saat gerhana.
Balon Ilmiah dari Islandia dan Spanyol
Selain pesawat, tim mahasiswa dan peneliti akan menerbangkan balon ilmiah dari Islandia dan Spanyol. Instrumen pada balon akan mengukur suhu, tekanan, kelembapan, arah angin, dan kondisi atmosfer sebelum, selama, serta setelah totalitas.
Ketika cahaya Matahari berkurang secara cepat, atmosfer dapat merespons seperti mengalami peralihan singkat dari siang menuju malam. Peneliti ingin mengetahui seberapa cepat perubahan itu terjadi dan apakah pola yang sama muncul di lokasi berbeda sepanjang jalur gerhana.
Balon memungkinkan instrumen mencapai ketinggian yang sulit dijangkau alat di permukaan. Program tersebut juga menjadi sarana pendidikan karena mahasiswa terlibat dalam perancangan instrumen, pengujian perangkat, pelaksanaan penerbangan, dan analisis data setelah misi selesai.
Melanjutkan Pengalaman Gerhana 2024
Penelitian pada 2026 melanjutkan pengalaman dari gerhana Matahari total 8 April 2024 yang melintasi Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada. Data dari peristiwa sebelumnya membantu ilmuwan mempelajari korona dan perubahan atmosfer, tetapi setiap gerhana memiliki jalur, waktu, cuaca, dan tingkat aktivitas Matahari yang berbeda.
Perbedaan tersebut memberi kesempatan untuk menguji instrumen dan metode pengamatan dalam kondisi baru. Hasil beberapa gerhana kemudian dapat dibandingkan untuk memisahkan perubahan yang berasal dari Matahari dengan perubahan yang dipengaruhi lokasi dan atmosfer Bumi.
Keselamatan Saat Mengamati Gerhana
NASA mengingatkan bahwa melihat Matahari secara langsung tanpa perlindungan yang tepat dapat menyebabkan kerusakan mata. Kacamata hitam biasa tidak cukup aman. Pengamat harus menggunakan kacamata gerhana atau alat pengamatan Matahari yang memenuhi standar keselamatan selama bagian terang Matahari masih terlihat.
Pelindung mata hanya dapat dilepas pada fase totalitas oleh pengamat yang benar-benar berada di jalur gerhana total. Ketika bagian Matahari kembali terlihat, pelindung harus segera digunakan lagi. Di wilayah yang hanya mengalami gerhana sebagian, perlindungan mata wajib dipakai sepanjang pengamatan.
Bagi masyarakat Indonesia, siaran resmi menjadi cara paling aman dan praktis untuk mengikuti peristiwa tersebut. Tayangan dari lembaga ilmiah akan menampilkan gambar gerhana dan penjelasan para ahli tanpa risiko menatap Matahari secara langsung.
Gerhana 12 Agustus 2026 menunjukkan bagaimana fenomena yang berlangsung singkat dapat dimanfaatkan untuk berbagai penelitian. Kombinasi pesawat WB-57, balon ilmiah, pengamatan darat, dan siaran publik diharapkan menghasilkan data baru mengenai Matahari sekaligus memperluas pemahaman tentang pengaruhnya terhadap lingkungan Bumi.
Sumber Resmi dan Rujukan
- NASA Science: NASA Science Soars During August Total Solar Eclipse
- NASA Science: Total Solar Eclipse on August 12, 2026
- NASA: Images and Media Usage Guidelines
Kredit Foto
Foto utama merupakan dokumentasi gerhana Matahari total pada 8 April 2024 yang digunakan sebagai gambar pendukung untuk artikel ini. Kredit foto: NASA/Keegan Barber. Penggunaan dilakukan untuk konteks berita dan editorial sesuai pedoman media NASA.